Tampilkan postingan dengan label Bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juni 2014

Ungkapan Bahasa Daerah Bermakna "Persatuan" atau "Kebersamaan" Berbagai Etnis di Indonesia

Ilustrasi Bahasa Daerah di Indonesia

Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai macam kebudayaan. Sebagai negara yang multikultural, masyarakat Indonesia tetap menyatu dan hidup secara harmonis. Selain sebagai negara yang multikultural, Indonesia juga merupakan negara yang multilingual. Kenapa Indonesia dijuluki negara yang multilingual? Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki berbagai macam bahasa daerah. Bahasa-bahasa daerah yang ada di Nusantara memiliki kekhasan masing-masing.
Dalam bahasa daerah berbagai etnis atau suku di Indonesia terdapat ungkapan-ungkapan yang bermakna persatuan atau kebersamaan. Ungkapan tersebut dapat dikatakan sebagai sarana atau wahana pemersatu etnis-etnis di Nusantara. Beberapa ungkapan bahasa daerah yang memiliki makna “persatuan” atau “kebersamaan” adalah sebagai berikut.
1. Bahasa Bali
Etnis Bali memiliki ungkapan sagalak saguluk salanglang salunglung sabayantaka, paras-poros sarpanaya. Ungkapan ini memiliki makna bekerja sama dalam mencapai tujuan dan tolong-menolong dengan sesama. Namun, secara luas, masyarakat non-Bali (Hindu), yang bermukim di Bali lebih akrab mendengar ungkapan manyama braya, yang artinya “persaudaraan”.
2. Bahasa Jawa
Ungkapan Jawa mangan ora mangan asal ngumpul (makan atau tidak asalkan berkumpul) pertama kali berkembang pada masa Kerajaan Majapahit, tepatnya ketika Mahapatih Gadjah Mada ingin mewujudkan niat dan tekadnya untuk menyatukan Nusantara. Ungkapan ini mereprentasikan persatuan dan kebersamaan yang hingga kini masih sering digunakan oleh etnis Jawa.
3. Bahasa Sunda
Dalam ungkapan Sunda berbunyi kacai jadi salewi kadarat jadi salogok mengandung makna “persatuan”. Secara harfiah, ungkapan ini berarti ke sungai kita bersama, ke darat juga bersama. Secara kiasan, ungkapan ini bermakna susah dan senang harus dilalui bersama. Tidak hanya itu, ungkapan Sunda kaciwit kulit kabawa daging juga memiliki makna kiasan, yakni senasib sepenanggungan.
4. Bahasa Madura
Bahasa Madura mempunyai ungkapan yang bermakna “persatuan”, yakni panas kaleben ojen reng Madureh panggun settong. Ungkapan tersebut secara harfiah berarti walaupun panas dan hujan orang Madura tetap bersatu. Sementara itu, arti kiasannya adalah dalam keadaan apapun, orang Madura harus tetap bersatu. 
5. Bahasa Manggarai
Pola cama-cama ata mendo, tiwit cama-cama ata geal, ungkapan ini memiliki arti berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Secara umum ungkapan tersebut mengandung makna “kebersamaan”. Dengan demikian, orang Manggarai berpandangan bahwa seberat apapun tugas atau pekerjaan, jika dikerjakan secara bersama-sama dapat diselesaikan dengan baik.
Ungkapan-ungkapan bahasa daerah yang bermakna persatuan atau kebersamaan di atas hanya segelintir dari banyaknya ungkapan bahasa daerah yang ada, mengingat bahasa daerah yang ada di Indonesia jumlahnya sangat banyak. Dari ungkapan-ungkapan tersebut terlihat bahwa berbagai etnis di Indonesia sangat menjunjung tinggi rasa persatuan dan kebersamaan.

Kamis, 23 Januari 2014

Variasi Bahasa Bali Berdasarkan Keetnisan dan Usia (Artikel)



Ilustrasi Bali
Bali, sebuah pulau sekaligus salah satu provinsi di Indonesia dengan delapan kabupaten dan satu kota, dihuni oleh tidak hanya etnis Bali yang notabene sebagai etnis asal melainkan juga etnis pendatang, seperti etnis Jawa, etnis Bugis, etnis Madura, dan  lain-lain. Salah satu kabupaten yang ada di Bali sekaligus menjadi salah satu  pusat ekonomi Bali ialah Kabupaten Badung. Peran sentral tersebut ditambah perannya sebagai daerah pariwisata membuat Badung menjadi tujuan masyarakat dari berbagai daerah di Bali, dan masyarakat pendatang dari berbagai daerah, baik dalam maupun luar negeri.
   Etnis Bali yang mendiami pulau ini menggunakan bahasa Bali dalam percakapan sehari-hari. Bahasa Bali merupakan salah satu dari sejumlah bahasa daerah yang mempunyai suatu keunikkan. Bahasa Bali sebagai bahasa daerah terdiri dari beberapa dialek, yaitu dialek Buleleng, Karangasem, Klungkung, Bangli, Gianyar, Badung, Tabanan dan Jembrana (Zulyani Hidayah, 1999).
   Kini bahasa Bali sebagai bahasa ibu etnik Bali tidak hanya dituturkan oleh etnis Bali melainkan juga etnis pendatang, seperti etnis Jawa, etnis Bugis, etnis Madura, dan lain-lain. Etnis pendatang yang dapat menuturkan bahasa Bali biasanya sudah lama berada di Bali atau lahir hingga besar di Bali. Bahasa Bali yang dituturkan oleh etnik pendatang memiliki kekhasan karena dituturkan masih dengan dialek etnis masing-masing. Misalnya, etnis Jawa yang dapat berbahasa Bali, menuturkan bahasa Bali dengan masih memperlihatkan dialek dari daerahnya. Pengaruh budaya dan bahasa daerah masing-masing tentu ikut mewarnai bahasa Bali yang dipakai sehingga melahirkan variasi bahasa. Pada masing-masing etnis terdapat pula variabel sosial, seperti usia yang juga berpengaruh pada bahasa yang dipakai (Dhanawaty, 2008).
Seperti dikatakan oleh Wolfram terdapat variabel-variabel linguistik yang distribusinya berbeda berdasarkan status sosial. Perbedaan usia, terutama yang berkaitan dengan generasi, sangat besar pengaruhnya terhadap bahasa karena pemakaian bahasa seseorang sangat dipengaruhi oleh teman sebaya (peer group)-nya. Terkait dengan etnis non-Bali, perbedaan kelompok usia tidak saja mempengaruhi bahasa Bali yang digunakan, tetapi dapat diasumsikan juga mempengaruhi pilihan bahasa mereka.

Rabu, 12 Desember 2012

Penggunaan Bahasa pada Masa Kerajaan Sriwijaya


Ilustrasi Kerajaan Sriwijaya
          
          Bahasa yang digunakan pada masa kerajaan Sriwijaya adalah bahasa Melayu Kuno dan bahasa Sanskerta. Tetapi, bahasa yang digunakan sebagai bahasa resmi dan bahasa lingua franca pada masa kerajaan Sriwijaya adalah bahasa Melayu Kuno.
      Bahasa Melayu Kuno sendiri merupakan anggota rumpun bahasa Austronesia dan dianggap sebagai salah satu bentuk awal (proto) bagi bahasa Melayu. Bahasa Melayu Kuno berdasarkan catatan-catatan tertulis pernah dipakai pada sekitar abad ke-7 hingga abad ke-13, yaitu pada zaman kerajaan Sriwijaya. Keberadaan bahasa ini diketahui dari prasasti dan keping logam (ada yang berupa emas dan ada pula tembaga) yang ditemukan di seputaran Nusantara bagian barat, seperti di Pulau Sumatera dan sekitarnya, Pulau Jawa, dan Pulau Luzon, Filipina.
       Kosakata bahasa ini banyak dipengaruhi oleh bahasa Sanskerta, yang menunjukkan bahwa pengaruh budaya India banyak terserap dalam kehidupan sehari-hari masa itu. Bahasa Sanskerta hingga sekarang menyumbang kepada pengayaan kosakata Bahasa Melayu. Aksara yang digunakan dalam sumber-sumber Melayu Kuno bermacam-macam, mulai dari aksara Pallawa, aksara Kawi atau aksara Pasca-Pallawa.
          Berbicara mengenai bahasa Melayu Kuno, tidak lepas dari pengaruh bahasa Sanskerta. Fakta kebahasaan yang sulit ditolak kebenarannya adalah menonjolnya pengaruh dari bahasa Sanskerta terhadap bahasa Melayu Kuno. Pengaruh ini terjadi antara lain karena kebanyakan masyarakat penutur Melayu ketika itu menganut agama Hindu atau Buddha, yang menggunakan bahasa Sanskerta sebagai bahasa agama (Collins, 2005). Kedudukan bahasa Sanskerta yang diterima di tengah-tengah kaum bangsawan juga menjadi penyebab mengapa pengaruh itu begitu dalam terhadap bahasa Melayu Kuno. Selain kedua sebab di atas yang berada di luar bahasa Melayu, penyebab lainnya berasal dari bahasa Melayu Kuno sendiri. Bahasa Melayu Kuno adalah bahasa yang lentur, yang tidak tertutup terhadap pengaruh dari bahasa lain, apalagi terhadap bahasa yang “kaya” seperti bahasa Sanskerta.
      Akibatnya, mengalirlah kosa kata bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Melayu Kuno, sehingga bahasa yang disebutkan terakhir menjadi kaya dengan kosa kata baru dan pada perkembangan berikutnya mampu menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan menjadi wahana pesan yang dituliskan di atas prasasti-prasasti.
      Pada zaman kerajaan Sriwijaya, bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa kebudayaan, yaitu bahasa buku pelajaran agama Buddha. Bahasa Melayu juga dipakai sebagai bahasa perhubungan antarsuku di nusantara maupun sebagai bahasa yang digunakan terhadap para pedagang yang datang dari luar nusantara. Pada zaman kerajaan Sriwijaya, dari abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi, bahasa Melayu Kuno mencapai kegemilangannya sebagai bahasa lingua franca dan bahasa resmi Kemaharajaan Sriwijaya.
       Menurut Kong Yuan Zhi, pada November 671 Yi Jing (635—713), yang di Indonesia lebih dikenal sebagai I-tsing, berlayar dari Guangzhou (Kanton) menuju India dalam kapasitasnya sebagai pendeta agama Buddha. Kurang dari dua puluh hari ia sampai di Sriwijaya, yang waktu itu sudah menjadi pusat pengkajian ilmu agama Buddha di Asia Tenggara. Di Sriwijayalah selama lebih kurang setengah tahun Yi Jing belajar sabdawidya (tata bahasa Sanskerta) sebagai persiapan melanjutkan perjalanannya ke India. Setelah tiga belas tahun belajar di India (Tamralipiti/Tamluk), ia kembali ke Sriwijaya dan menetap di sana selama empat tahun (686—689) untuk menyalin kitab-kitab suci agama Buddha. Setelah itu ia kembali ke negerinya, tetapi pada tahun yang sama ia datang kembali ke Sriwijaya dan menetap di sana sampai 695.
      Dari catatan Yi Jing itulah diketahui bahasa yang disebutnya sebagai bahasa Kunlun, yang dipakai secara luas sebagai bahasa resmi kerajaan, bahasa agama, bahasa ilmu dan pengetahun, bahasa perdagangan, dan bahasa dalam komunikasi sehari-hari masyarakat. Yi Jing menyebutkan bahwa bahasa Kunlun telah dipelajari dan dikuasai oleh para pendeta agama Buddha Dinasti Tang. Mereka menggunakan bahasa Kunlun untuk menyebarkan agama Buddha di Asia Tenggara. Dengan demikian, bahasa Kunlun menjadi bahasa kedua para pendeta itu. Ringkasnya, bahasa Kunlun merupakan bahasa resmi Kemaharajaan Sriwijaya dengan seluruh daerah taklukannya yang meliputi Asia Tenggara. Pada masa itu bahasa Kunlun telah menjadi bahasa internasional. Ternyata, bahasa Kunlun yang disebut Yi Jing dalam catatannya itu ialah bahasa Melayu Kuno.
     Prasasti-prasasti pada masa kerajaan Sriwijaya banyak yang mempergunakan bahasa Melayu Kuno diiringi dengan penulisannya mempergunakan aksara Pallawa, diantaranya:

Prasasti Kedukan Bukit, Palembang (605 Saka/683M);
Prasasti Talang Tuwo, dekat Palembang (606 Saka / 684 M); 
Prasasti Kota Kapur, Pulau Bangka (608 Saka / 686 M);  
Prasasti Karang Brahi, Kabupaten Merangin, Jambi (614 Saka / 692 M).