Sabtu, 14 Juni 2014

Etika Komunikasi Media Massa di Era Reformasi

         
         
Ilustrasi Media di Indonesia
         Era reformasi identik dengan era media. Tanpa media, baik media cetak maupun media elektronik, sebaran informasi dan komunikasi tidak akan terjadi. Berbagai informasi yang disebarkan itu dikemas sedemikian rupa dan diwujudkan dalam berbagai bentuk, baik tulisan, suara, gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, elektronik, dan segala jenis jalur yang tersedia. Dalam bab II pasal 3 ayat 1 UU No. 40 Tahun 1999 tentang pers disebutkan bahwa “pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.” Sedangkan pada ayat 2 disebutkan bahwa “Pers Nasional dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi”. Fungsi media massa (pers) sebagai media informasi menunjukkan bahwa pers adalah sebagai sarana untuk menyampaikan informasi secepatnya kepada masyarakat luas. Berbagai keinginan, aspirasi, pendapat, sikap, perasaan, manusia dapat disebarkan melalui pers. 
    Sebagai lembaga ekonomi, pers memang dituntut berorientasi komersial untuk memperoleh keuntungan finansial. Namun, orientasi dan misi komersial ini sama sekali tidak boleh mengurangi apalagi meniadakan fungsi pers dan tanggung jawab sosial pers, di antaranya ikut mencerdaskan generasi bangsa guna menjalankan fungsinya sebagai media pendidikan (edukasi). Namun, yang terjadi di negeri ini adalah prinsip-prinsip tanggung jawab sosial pers seakan-akan hilang oleh makin besarnya orientasi komersial yang semakin hari semakin menggerogoti dunia pers di era reformasi ini. 
       Timbulnya para konglomerat media ini disinyalir sebagai faktor utama terjadinya hal tersebut. Sebut saja Surya Paloh dengan Media Groupnya (Metro TV, Bisnis Indonesia, Media Indonesia, dll), Chairul Tanjung dengan CT Corpnya (Trans TV, Trans 7, Detik.com), Abu Rizal Bakrie dengan Viva Grupnya (TVONE, ANTV,Vivanews.com), Dahlan Iskan dengan jaringan Jawa Posnya (yang meliputi jaringan berita seluruh Indonesia) dan lainnya. Para konglomerat media ini tentunya memiliki berbagai motivasi komersial dalam menjalankan bisnis pers ini, salah satunya ialah motivasi politik. Motivasi ini timbul ketika banyaknya para konglomerat media terjun ke dalam dunia ini, sebut saja Surya Paloh (Ketua Umum Partai Nasdem/Pendiri Nasdem), Abu Rizal Bakrie (Ketua Umum Golkar/Capres Golkar), Dahlan Iskan (Anggota Partai Demokrat dan Peserta Konvensi Capres Demokrat 2014), dan lainnya. Motivasi ini sedikit banyaknya membuat pers yang ada dalam naungannya menjadi tidak netral dalam memberikan suatu informasi. 
   Kita bisa melihat contoh pada kasus Metro TV, kemarin (23/4) Metro TV ini memberitakan bahwa para pedagang asongan yang merugi akibat tidak dibayar oleh Partai Gerindra pada kampanye akbar partai tersebut di GBK. Dalam pemberitaan tersebut seakan-akan Metro TV menelanjangi bahwa Partai Gerindra tidak menepati janji untuk membayar  para pedagang asongan yang habis barangnya pada kampanye tersebut. Padahal kenyataannya di lapangan (menurut sumber yang bisa dipercaya) Partai Gerindra telah membayar para pedagang tersebut dengan lunas. Tidak hanya itu, jika kita memperhatikan porsi iklan kampanye partai politik yang ditayangkan di Metro TV, iklan kampanye Partai Nasdem mengisi hampir di setiap waktu tayang Metro TV dengan durasi yang cukup lama. Sedangkan iklan partai lain sangat sedikit yang ditayangkan dengan durasi yang cukup singkat. Padahal menurut KPU media harus adil dalam memberikan ruang bagi partai politik untuk melakukan ‘kampanye udara’ dengan durasi waktu maksimal 30 detik.
        Pelanggaran yang dilakukan Metro TV cukup disayangkan. Namun, ketika kita melihat sang pemilik yaitu, Surya Paloh (Pemilik Metro TV dan Ketua Umum Nasdem) hal tersebut merupakan sebuah ironi. Dalam wawancaranya dengan Aiman Witjaksono dalam acara ‘Aiman dan..’ (edisi Surya Paloh, yang ditayangkan di Kompas TV)  pada pertengahan Februari lalu, Surya Paloh mengatakan bahwa ia akan menggunakan segala hal yang ia miliki untuk tujuan pribadinya (ambisi politiknya), walaupun itu bertabrakan dengan nilai-nilai etika pers.
     Hal tersebut sungguhlah menjadi suatu pelecehan terhadap etika komunikasi media massa. Pers (media massa) haruslah menerapkan prinsip-prinsip etika komunikasi dalam menjalankan tugasnya sebagai pewarta informasi bagi masyarakat. Di mana dalam pelaksanaannya, pers (media massa) harus memegang prinsip dasar etika komunikasi, yakni: informasi yang disampaikan harus benar dan jujur sesuai fakta sesungguhnya; berlaku adil dalam menyajikan informasi, tidak memihak salah satu golongan; serta menggunakan bahasa yang bijak, sopan dan hindari kata-kata provokatif. Apabila etika komunikasi dipegang dengan teguh oleh para insan pers, saya yakin masyarakat sebagai penikmat dan penerima informasi akan menerima informasi yang benar dari pers sebagai ujung tombak demokrasi di Indonesia, serta “pembodohan publik” tidak akan terjadi. (Ida Ayu Putu Novinasari)

Sabtu, 07 Juni 2014

Pameran 113 Foto dan Pernak-Pernik Sang Proklamator

Suasana Pameran 113 Foto dan Pernak-Pernik Soekarno

Denpasar
Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Denpasar bersama Persatuan Alumni GMNI Bali menyelenggarakan pameran foto dan pernak-pernik sang proklamator, Soekarno. Pameran foto dan pernak-pernik Soekarno ini dimulai dari tanggal 6 – 21 Juni 2014. Sebanyak 113 foto dan pernak-pernik Soekarno dipamerkan di Yayasan Panti Marhaenis Jalan Banteng No.1 Denpasar-Bali.
Pameran ini diselenggarakan dalam rangka serangkaian peringatan haul Soekarno yang jatuh pada bulan Juni. Para anggota GMNI Denpasar, baik anggota lama maupun anggota yang  baru bergabung dalam organisasi ini, dan alumni GMNI Bali bahu-membahu mempersiapkan pameran 113 foto dan pernak-pernik Soekarno. Pameran yang merupakan salah satu acara dalam Pekan Bulan Bung Karno ini terbuka bagi siapa saja yang ingin lebih mengenal sosok Presiden Pertama Republik Indonesia, sehingga nantinya semakin banyak yang mengetahui sosok sang proklamator.
Ketika memasuki ruangan pameran, terdengar lagu perjuangan yang melantun membakar semangat. Foto-foto dan pernak-pernik Soekarno dipajang di empat ruangan. Poster-poster bergambar sang proklamator dengan kalimat-kalimat penggerak beliau mengisi ruangan-ruangan pameran. Hampir semua gambar dibingkai apik dalam figura dengan frame berwarna hitam. Potret Soekarno sedang membacakan naskah proklamasi yang diletakkan di atas taplak berwarna merah putih adalah salah satu potret diri sang pemimpin besar revolusi dari sekian banyak koleksi yang dipamerkan di Yayasan Panti Marhaenis oleh Alit Widu Saka. Sebuah jam dinding bertuliskan 100 tahun Soekarno (1901 – 200) juga dipajang. Selain poster dan pernak-pernik, dipamerkan pula lebih dari 200 buku yang ditata rapi dietalase berukuran 4x2 meter.
Koleksi yang dipamerkan adalah koleksi dari Alit Widu Saka, alumnus Universitas Udayana yang sewaktu mahasiswa ikut dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Diakui Alit, segala sesuatu yang berbau Soekarno dikumpulkannya sejak tahun 1984, sejak ikut dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di kampus. Diakui Alit saat dijumpai di Yayasan Panti Marhaenis (6/6/2014) lalu bahwa kecintaannya akan sosok Soekarno diturunkan dari sang ayah yang juga kagum akan sosok yang dijuluki penyambung lidah rakyat itu.
Pameran 113 foto dan pernak-pernik Soekarno ini rupanya mendapat respon positif dari masyarakat, khususnya para pecinta Soekarno. Hal itu tampak dari penuturan Rahardjo Salim, salah satu alumni GMNI ITB (Institut Teknologi Bandung) yang sekaligus pengagum berat Bung Karno. “Pameran dan acara-acara yang diselenggarakan ini bagus itu mengajarkan anak muda tentang Bung Karno itu siapa, ajarannya, supaya bisa diterapkan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena sekarang bangsa kita kurang memahami ajaran pendahulu, terutama Bung Karno Sang Proklamator” ujar pria berusia 61 tahun ini yang dijumpai di tempat pameran foto dan pernak-pernik Soekarno (6/6/2014). Selain pameran 113 foto dan pernak-pernik Soekarno, di tengah acara juga akan diadakan berbagai kegiatan lain, seperti pemutaran film, seminar, diskusi, lomba menulis esai dan lomba membaca puisi. Kegiatan-kegiatan itu masih berhubungan dengan sosok sang proklamator, Soekarno dan termasuk dalam rangkain acara Pekan Bulan Bung Karno. (dayu)

Tips Menulis Artikel

   Artikel atau karangan ilmiah populer adalah opini, pendapat, atau gagasan pribadi seseorang yang sifatnya ilmiah dan disajikan secara populer. Di Indonesia, sejak tahun 1960-an, orang semakin sering menulis artikel. Kecenderungan ini semakin menguat saat tahun 1980-an, tepatnya ketika artikel semakin mendapat tempat secara ekonomis. Artikel lebih terikat pada ragam jurnalistik dengan metode analisis yang tidak begitu ketat seperti karangan ilmiah murni. Meskipun demikian, keilmiahan karangan ilmiah populer tidak berkurang. Pada artikel tidak ada kewajiban untuk mengikuti semua butir sistematika  seperti pada karangan ilmiah murni. Butir-butir tersebut disajikan secara implisit dalam tulisan. Rata-rata artikel paling panjang 6 halaman kuarto dengan spasi 1,5. 
   Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis artikel, antara lain: (1) apakah tulisan yang dibuat memiliki masalah yang aktual, dalam artian sesuatu yang sedang hangat di masyarakat; (2) apakah tulisan yang dibuat tidak terlalu panjang; dan (3) apakah tulisan tersebut mempunyai standar teknis penulisan artikel. Dari ketiga persoalan itu, hal utama yang menjadi pertimbangan redaksi adalah aktualitas gagasan. Jika masalah yang diangkat menjadi tulisan adalah masalah yang aktual atau sedang hangat diperbincangkan di masyarakat, maka peluang artikel tersebut dimuat di media cukup besar. Untuk mengetahui topik apa yang sedang hangat di masyarakat, seorang penulis artikel harus rajin mengikuti perkembangan informasi sekaligus mampu memprediksi kecenderungan tema atau topik yang akan hangat di masa mendatang. Selain itu, hal lain yang perlu diperhatikan adalah langkah-langkah teknis dalam penulisan artikel.
   Langkah pertama dalam penulisan artikel adalah tentukan topik tulisan. Topik yang akan diangkat harus (diusahakan) memiliki kadar aktualitas. Kadar aktualitas ini sangat penting agar artikel yang diangkat akan mampu menarik perhatian masyarakat. Setelah menentukan topik secara umum, buatlah penajaman masalah yang hendak dibahas. Kemudian, langkah kedua ialah buatlah kerangka karangan secara rinci. Kerangka karangan ini sangat berguna untuk mengecek pola pikir dan mengecek ke dalam pemahaman pembahasan agar artikel yang dibuat tidak terlampau panjang. Lalu, carilah data, fakta, atau kepustakaan penunjang yang terkait dengan kerangka karangan yang telah dibuat sebagai langkah ketiga. Setelah itu mulailah menulis artikel. Setelah artikel selesai ditulis, langkah keempat adalah memeriksa kembali tulisan itu. 
  Beberapa aspek yang terkait dalam penulisan artikel, antara lain: (1) pendahuluan dianggap baik jika mampu menampilkan realitas isu yang berkembang saat itu; (2) disiplinlah dengan kerangka karangan dan konsep paragraf yang dibuat; (3) kalimat pasif harus digunakan secara konsisten untuk menghindari penulisan kata “penulis” atau “kita” terlalu banyak; (4) hendaknya dalam penyusunan kalimat, kalimat tidak terlampau panjang; (5) wajib memberikan argumentasi yang menyakinkan ketika menyatakan suatu pendapat atau opini terhadap suatu persoalan; (6) kata-kata “pendahuluan”, ‘rumusan masalah”, “tujuan”, dan sebagainya tidak perlu dituliskan secara eksplisit; (7) perhatikanlah alat atau sarana yang digunakan untuk menulis; dan (8) apabila artikel ingin dikirimkan ke sebuah media cetak, cantumkanlah data diri secara lengkap dan ditujukan langsung kepada redaktur opini media bersangkutan. Apabila hal-hal tersebut diperhatikan, niscaya artikel yang dibuat akan mampu memikat hati pembaca. Selamat mencoba.

Kamis, 23 Januari 2014

Variasi Bahasa Bali Berdasarkan Keetnisan dan Usia (Artikel)



Ilustrasi Bali
Bali, sebuah pulau sekaligus salah satu provinsi di Indonesia dengan delapan kabupaten dan satu kota, dihuni oleh tidak hanya etnis Bali yang notabene sebagai etnis asal melainkan juga etnis pendatang, seperti etnis Jawa, etnis Bugis, etnis Madura, dan  lain-lain. Salah satu kabupaten yang ada di Bali sekaligus menjadi salah satu  pusat ekonomi Bali ialah Kabupaten Badung. Peran sentral tersebut ditambah perannya sebagai daerah pariwisata membuat Badung menjadi tujuan masyarakat dari berbagai daerah di Bali, dan masyarakat pendatang dari berbagai daerah, baik dalam maupun luar negeri.
   Etnis Bali yang mendiami pulau ini menggunakan bahasa Bali dalam percakapan sehari-hari. Bahasa Bali merupakan salah satu dari sejumlah bahasa daerah yang mempunyai suatu keunikkan. Bahasa Bali sebagai bahasa daerah terdiri dari beberapa dialek, yaitu dialek Buleleng, Karangasem, Klungkung, Bangli, Gianyar, Badung, Tabanan dan Jembrana (Zulyani Hidayah, 1999).
   Kini bahasa Bali sebagai bahasa ibu etnik Bali tidak hanya dituturkan oleh etnis Bali melainkan juga etnis pendatang, seperti etnis Jawa, etnis Bugis, etnis Madura, dan lain-lain. Etnis pendatang yang dapat menuturkan bahasa Bali biasanya sudah lama berada di Bali atau lahir hingga besar di Bali. Bahasa Bali yang dituturkan oleh etnik pendatang memiliki kekhasan karena dituturkan masih dengan dialek etnis masing-masing. Misalnya, etnis Jawa yang dapat berbahasa Bali, menuturkan bahasa Bali dengan masih memperlihatkan dialek dari daerahnya. Pengaruh budaya dan bahasa daerah masing-masing tentu ikut mewarnai bahasa Bali yang dipakai sehingga melahirkan variasi bahasa. Pada masing-masing etnis terdapat pula variabel sosial, seperti usia yang juga berpengaruh pada bahasa yang dipakai (Dhanawaty, 2008).
Seperti dikatakan oleh Wolfram terdapat variabel-variabel linguistik yang distribusinya berbeda berdasarkan status sosial. Perbedaan usia, terutama yang berkaitan dengan generasi, sangat besar pengaruhnya terhadap bahasa karena pemakaian bahasa seseorang sangat dipengaruhi oleh teman sebaya (peer group)-nya. Terkait dengan etnis non-Bali, perbedaan kelompok usia tidak saja mempengaruhi bahasa Bali yang digunakan, tetapi dapat diasumsikan juga mempengaruhi pilihan bahasa mereka.

Rabu, 15 Januari 2014

I Gusti Putu Wisnu, Sang Pahlawan yang Terlupakan (Feature)



Mayor Wisnu

Anda pasti sudah tahu Jalan Mayor Wisnu yang terletak di seputaran Kayumas-Kota Denpasar atau mungkin Bandara Mayor Wisnu yang ada di Buleleng. Namun, tahukah Anda, Siapakah sebenarnya Mayor Wisnu?

Mayor Wisnu merupakan salah satu dari sekian banyak para pejuang kemerdekaan Indonesia yang seakan-akan terlupakan oleh para generasi muda Bali. Beliau dilahirkan di Klungkung pada tahun 1919, dengan nama I Gusti Putu Wisnu. Ayahnya, I Gusti Nyoman Oka adalah seorang ambtenaar (pegawai pemerintah Hindia Belanda-pen) yang berasal dari Banjar Penataran, Buleleng. Di Klungkunglah Wisnu kecil tumbuh besar hingga pada tahun 1926, Wisnu kecil masuk HIS (Hollands Inlandsche School-SD Belanda-pen) di Denpasar dan lulus pada 1933. Setelah lulus HIS, Wisnu remaja kemudian melanjutkan ke MULO (Meer UItgebreed Leger Onderwijs-SMP Belanda-pen) di Malang. Namun, ketika Wisnu remaja duduk di kelas 3, ia terpaksa meninggalkan bangku sekolah yang sangat ia cintai. Oleh karena ibunya meninggal dunia.

Setelah itu, bersama sahabatnya Pak Rai (I Gusti Ngurah Rai-pen) memasuki kursus kadet militer Belanda di Gianyar dan lulus dengan pangkat 2e Leutnant (Tweede Leutnant/Letnan Dua-pen). Kemudian Pemuda Wisnu bertugas di Korps Prayodha Singaraja. Sayangnya ia harus menutup karir kemiliteran Belandanya ketika Jepang masuk ke Bali.

Pada masa pendudukan Jepang, pemerintah pendudukan Jepang membuat sebuah pendidikan militer untuk para pribumi yang dinamakan PETA (Pembela Tanah Air-pen). Pemuda Wisnu pun bergabung dan mengikuti pendidikan militer di Ringshitai Singaraja, bersama Kemal Idris (kelak Pangdam Siliwangi-pen), Pak Rai, dan Pak Pindha (I  Gusti Ngurah Pindha, kelak Wagub Bali-pen). Pemuda Wisnu yang sudah dikenal dengan panggilan “Pak”, lulus dengan pangkat Chudanco (setara Kapten-pen).

Pasca Proklamasi Kemerdekaan, Pak Wisnu bergabung dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat-pen), dan diangkat sebagai Komandan Batalyon I TKR Sunda Kecil. Kemudian bersama Pak Rai, beliau ke Yogyakarta untuk menerima petunjuk-petunuk dari Mabes TKR dan meminta bantuan dalam rangka menghadapi Belanda di Bali. Dan sewaktu beliau kembali ke Bali, ternyata pasukan Belanda sudah mendarat di Bali pada bulan Februari 1946. Ketika itu, pasukan TKR Sunda Kecil tercerai berai dan terpencar. Pak Wisnu bersama Pak Rai dan pemimpin pejuan lainnnya segara berusaha untuk mempersatukan pasukannya kembali. 
Selanjutnya, Pak Wisnu diangkat sebagai Kepala Staf TKR (Resimen) Sunda Kecil. Beliau senantiasa setia mendampingi komandannya (Pak Rai-pen) melakukan perang gerilya, menggempur kedudukan tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration-pen) di hutan-hutan, desa, maupun kota di seluruh Bali. Setelah pertempuran di Tanah Aron-Karangasem, pasukan TKR (Resimen) Sunda Kecil sempat terpecah-pecah lagi dan diperintahkan kembali ke daerah masing-masing, karena kehabisan amunisi. Kemudian, karena tidak berhasil menyebrang kembali ke Jawa, Pak Wisnu dan Pak Rai, serta beberapa kawan pejuang lainnya berusaha untuk mendapatkan senjata dan peluru-peluru di Bali. Usaha itu berhasil dengan direbutnya dan diambilnya amunisi di Tangsi Polisi NICA Tabanan. Namun sialnya, tindakan itu diketahui oleh Belanda. Pasukan Pak Rai yang dijuluki Ciung Wanara dikepung dan digempur habis-habisan oleh NICA dengan mengerahkan seluruh kekuatannya. Dan pada hari yang naas, 20 November 1946, pasukan Ciung Wanara yang bertempur dengan semangat puputan dihancurkan oleh NICA. Pak Wisnu pun beserta Pak Rai dan 94 anak buahnya, gugur sebagai kusuma bangsa. Dan pertempuran tersebut dikenal oleh masyarakat sebagai Pertempuran Puputan Margarana.

Selasa, 07 Januari 2014

Ada Apa dengan Kaki Tanganku? (Puisi)


Ilustrasi Kaki dan Tangan

Hingga kini,
aku tak habis pikir..
Tiap kali aku menonton kotak hitam di pojok ruangan,
selalu terpampang wajah wakil-wakil rakyat
yang kebelinger lembaran-lembaran bernilai itu.
Entah apa yang ada di pikiran mereka,
katanya berintelektualitas,
katanya memperjuangkan nasib rakyat,
Namun nyatanya…
hak rakyat pun diperkosa tanpa pandang bulu..
Ada apa dengan kaki tanganku yang duduk di kursi langit sana?
sudah butakah hati mereka?
eling pak, bu..


Ida Ayu Putu Novinasari~

Rabu, 13 November 2013

Goresan Pena Terakhir Ayah (Cerpen)

Ilustrasi Goresan Pena
Sang surya telah berada di titik puncak langit. Menebarkan suhu yang tak sesejuk biasanya. Apalagi untuk para manusia yang tinggal di kota yang tidak pernah berhenti beraktivitas seperti Jakarta. Saat suasana terik yang enggan untuk bersahabat, Pak Ridho masih tetap berlalu lalang memanggul beberapa karung beras di punggungnya. Peluh yang bertetesan seperti sedang mandi itu tak dihiraukannya, meskipun dua buah kakinya mulai gemetaran karena belum memasukkan sebutir nasi pun ke dalam perutnya. Entah sudah berapa karung yang diangkatnya, tapi ia masih tetap bisa mengobarkan semangat pantang menyerah dalam dirinya mungkin karena ia teringat perkataan Anto, anak sulungnya kemarin pagi bahwa ia sampai kapan pun tak akan pernah mampu untuk menyekolahkan Anto hingga perguruan tinggi. Kata-kata yang dilontarkan Anto pun tak sewajarnya, sangat kasar dan penuh cacian.
“Bang Ridho, istirahat dulu Bang. Daritadi sepandang mata saya memandang, abang tidak henti-hentinya membawa karung beras di punggung abang. Jangan terlalu diporsir.” Kata Pak Ragil kepada Pak Ridho, ia adalah sahabat Pak Ridho sejak dulu di sekolah rakyat.
“Tidak apa, ini demi Anto putraku. Dia ingin bersekolah di tempat yang bagus, jadi aku harus bekerja lebih keras lagi,”
“Ya sudah bang, kalau begitu. Tapi jangan dipaksa bang, kalau capek istirahatlah.”
Tidak terasa hari sudah menunjukkan pukul 17.45, senja telah menampakkan dirinya, menghipnotis setiap mata dengan pencampuran warnanya yang indah. Dengan nafas yang tersengal-sengal dan peluh bercucuran membanjiri sekujur tubuh Pak Ridho pulang dengan membawa uang 45 ribu rupiah dan satu kotak martabak manis kesukaan anak-anaknya, termasuk Anto, berharap hati anaknya itu akan luluh dan tidak marah lagi.
Sesampainya di rumah, sebuah gubuk sederhana beralaskan tanah, Pak Ridho langsung memberikan martabak manis itu ke Anto, namun Anto seakan tidak sudi untuk mencicipinya. Pak Ridho hanya dapat mengelus dada, ia tidak sedikit pun kesal dengan perilaku anaknya itu. Karena martabak manis itu tidak mau dicicipi Anto, Pak Ridho pun memberikannya ke istri dan kedua adik Anto. Untunglah, tawa canda kedua anaknya yang lain mampu menghibur hatinya.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali bahkan sebelum ayam jantan berkokok, Pak Ridho sudah berangkat kerja. Ia berjalan kaki menuju pasar. Seperti biasa, ia memang rutin bekerja menjadi kuli di pasar, kadang kalau ada proyek pembuatan rumah, ia biasa menjadi kuli bangunan. Tapi entah mengapa, hari itu kondisi pasar sedang sepi, hanya terlihat beberapa orang pembeli yang lalu lalang, mungkin karena harga-harga di pasar pada meroket tajam. Bukan salah pedagang sebenarnya karena kendali bukan di tangan mereka.
Pak Ridho hanya bisa terduduk lemas dengan tatapan menerawang. Dalam otaknya kebingungan menyelimuti karena kalau kondisi pasar seperti ini terus bagaimana nasib keluarganya. Saat dirinya sedang asik bergelut dengan kebingungannya, Pak Abil mengagetkannya. Pak Abil merupakan teman semasa dulu di bangku sekolah, tapi ia jauh lebih sukses dari Pak Ridho karena ia bekerja di Malaysia sebagai TKI. Pak Abil mengajak Pak Ridho untuk menjadi TKI dengan iming-iming penghasilan yang besar dan lingkungan kerja yang sangat nyaman.
Awalnya Pak Ridho terasa berat untuk meninggalkan keluarganya, namun setelah ia berpikir cukup lama, ia pun bersedia. Setelah mereka berbincang cukup lama, mereka melangkahkan kaki menuju tempat penyalur TKI yang sebelumnya sudah memberangkatkan Pak Abil dengan selamat sentosa.
Sesampainya disebuah rumah beralaskan keramik berwarna merah, mereka langsung menuju ke sebuah ruangan dengan minim penerangan, bahkan udara pun seakan sulit untuk berlalu lalang. Di sana Pak Ridho berjumpa dan berbicara membuat perjanjian hitam di atas putih dengan bos agen penyalur TKI itu.
***
Tidak terasa sudah seminggu sejak penandatangan surat perjanjian kerja itu disepakati, kini tiba saatnya Pak Ridho berangkat menuju Hongkong. Istri dan kedua anaknya meneteskan air mata berat melepaskan keberangkatan sosok yang mereka cintai. Namun anehnya, Anto malah enggan mengantarkan bapaknya meskipun hanya di depan rumah. Meskipun demikian, Pak Ridho tidak berkecil hati, ia tetap semangat untuk mendapatkan uang yang banyak supaya bisa memberikan nafkah finansial kepada istri dan anak-anaknya.
Setelah perjalanan yang melelahkan, Pak Ridho dan beberapa TKI lainnya akhirnya sampai di Bandara. Mereka diajak ke sebuah rumah sederhana dan di sana mereka diberikan pengarahan oleh Suri, penanggung jawab agen penyalur TKI. Mereka juga diajarkan sedikit bahasa Cina dialek Hokkian. Usai diberikan pengarahan dan pengajaran, Pak Ridho dan beberapa TKI lainnya langsung didistribusikan ke rumah-rumah orang-orang Hongkong untuk menjadi pembantu. Pak Ridho sendiri bekerja sebagai tukang kebun dan pembantu di sebuah rumah besar dengan majikan yang kaya raya. Namun kehidupan Pak Ridho tidak berjalan mulus.
Majikan Pak Ridho yang bernama Tan Tjoen An meskipun kaya raya, kelakuannya sangat tidak manusiawi, bahkan istri dan anak semata wayangnya juga demikian. Bayangkan saja, Pak Ridho hanya diberikan makan 1x sehari itupun tanpa lauk, hanya kuah sop. Tidur pun, Pak Ridho tidak di kamar dengan alas kasur yang semestinya, ia tidur di lantai dapur. Gaji juga tidak seberapa, hanya 150ribu apabila dirupiahkan. Kekejaman dan penganiayaan sering diterima Pak Ridho. Pak Ridho yang sangat sabar hanya dapat menahan rasa sakit yang diterimanya, baik fifik maupun mental.
***
Sampai suatu ketika, saat Pak Ridho menunaikan ibadahnya yaitu sholat. Ia dilarang, kitab sucinya diambil secara paksa dan diinjak-injak. Pak Ridho yang tidak terima akan perlakuan keji majikannya itu lantas mengambil sikap. Ia merasa terhina akibat perlakuan kasar sang majikan, seakan-akan harga dirinya diinjak. Ketika itu terpasang sebuah samurai milik majikannya di dinding berwarna putih menyala. Pak Ridho lantas mengambil pedang Tiongkok itu dan langsung menebas leher sang majikan hingga berlumuran darah.
Setelah kejadian yang berlangsung singkat tersebut, Pak Ridho tersadar akan perbuatannya yang sangat keji dengan membunuh majikannya. Pandangan matanya terus tertuju pada tubuh Tuan Tan yang telah terbujur kaku dan bersimbah darah. Rasa bersalah dan berdosa mengahantui benaknya, sesaat ia teringat akan keluarganya di kampong. Seketika ia mengambil secarik kertas yang tergeletak di atas meja, ia pun kemudian menulis surat permintaan maaf kepada keluarga Tuan Tan dan keluarganya di kampong. “Maafkan saya atas perbuatan keji yang telah saya lakukan ini. Saya terpaksa melakukannya karena untuk membela harga diri dan keyakinan saya….
Anto anakku, maafkan ayah… Ayah tidak bisa membahagiakan dirimu, ayah ingin kau menjadi anak yang berguna. Jaga keluargamu, terutama Ibu dan adik-adikmu..
Selamat tinggal
Ayahmu-Ridho”
Setelah menulis surat tersebut, Pak Ridho kembali mengambil pedang yang telah ia gunakan untuk membunuh Tuan Tan. Seketika ia menghujamkan pedang itu ke dirinya sendiri sebagai rasa bersalah dan berdosanya.



SEKIAN